Langsung ke konten utama

Ibu



Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Sekian lama tak menulis, ingin rasanya menggoreskan kembali pena virtual disini. Heuheuheu.

Perihal ibu memang seringkali terasa ambigu. Dalam artian, di satu sisi ingin rasanya berbakti dengan sepenuh hati. Sementara disisi yang lain jiwa ini dipenuhi rasa enggan yang tak bertepi. Mudah untuk diucap, tapi tubuh sulit menanggap. Ketika momen tiba, dipanggilah nama kita olehnya. Rasa nggrundel di hati pun tiba. Sambat dengan segala unek-unek di hati, bergumpal di dalam dan menyesakkan dada. Namun setelah perintah terlaksana, muncul rasa penyesalan secara tiba-tiba. Mengapa tadi saya sambat ketika diminta tuk melakukan sesuatu olehnya?

Teringat saya ketika mengkaji tafsir Kalamullah di surat Al-Isra (17) ayat 23.

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَـٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّۢ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًۭا كَرِيمًۭا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."

Megenai penafsiran أُفٍّۢ yang pernah dijelaskan oleh murobbi saya,  bahwasanya ia memiliki makna sebuah ungkapan penolakan. Ini berarti bahwa أُفٍّۢ tak hanya bermakna "ah", tapi mencakup semua ungkapan penolakan -dengan seabrek sambat lainnya- yang memiliki makna serupa. Dari ucapan seperti itu yang terkesan ringan saja dilarang oleh agama, apalagi sampai berucap dengan perkataan yang bernada "menghina".  

Itu mungkin sedikit untaian kata yang ingin saya sampaikan perihal ibu. Saya harap, apa yang saya tuliskan ini ada manfaatnya untuk kita semua.

Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

I’TIBAR, MUTABA’AT, DAN SYAWAHID [unedited]

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam struktur tingkatan sumber hukum umat islam, hadis (sunnah) menempati urutan kedua setelah al-qur’an, karena disamping sebagai ajaran islam yang secara langsung terkait dengan kehidupan Rasulullah saw. sebagai suri tauladan, juga karena fungsinya sebagai penjelas (bayan) bagi ungkapan-ungkapan al’qur’an. Hadis Nabi meskipun dalam tingkatan sumber hukum berada pada urutan kedua, namun dalam praktik pelaksanaan ajaran islam sangatlah penting, bahkan tidak jarang dianggap sejajar dengan al-qur’an. hal ini, karena hadis selain sebagai penguat dan penjelas terhadap al-qur’an, terkadang ia secara independent dapat menjadi pijakan dalam menentukan ketetapan hukum terhadap suatu permasalahan yang tidak disebutkan dalam al-qur’an. Hadis dengan berbagai dimensinya selalu menjadi fokus kajian yang problematik dan menarik. Studi hadis pun dikalangan para peneliti hadis terus mengalami perkembangan. Beragam objek studi hadis terus berkembang dari masa ke mas...

Kuliah Jalanan

    Perasaan sekarang ini perkuliahan belum dimulai, namun saya merasa mendapat banyak materi kuliah hari ini. Kamu boleh menyebutnya kuliah "hidup". Semua berawal dari perjalanan saya ke sebuah coffee shop di Pondok Cina (sebuah kawasan di Margonda, pusat kota Depok). Dengan berbekal hem warna merah motif kotak-kotak dan celana panjang bermerk curidimal yang kumal karena belum disetrika, saya berangkat menyusuri padatnya kota Depok siang itu. Perginya saya ke coffee shop itu bukan tanpa alasan, ada misi khusus yang saya emban dan mesti saya lakoni hingga tuntas.     Jalan kakilah saya dari tempat persinggahan by foot sampai halte fakultas teknik Universitas Indonesia. Sesampainya saya di sana, sembari menunggu Bis Kuning (BIKUN) UI lewat saya menyalakan earbud yang baterainya tinggal 10% untuk kemudian dihubungkan dengan smartphone saya via bluetooth. Tak hanya sampai situ, saya pun membuka buku Epistemologi Islam yang sebenarnya merupakan kumpulan materi kuliah Pro...

Lebaran

Hamdalah, Ramadan telah usai, kira-kira apa yang bisa kamu tuai? Mak deg, dada terasa berhenti sejenak. Sedari awal Ramadan ngapain aja yak? Wah masya Allah betul bulan puasa tahun ini, banyak pengalaman baru. 17 hari pertama bulan Ramadan saya habiskan di masjid Ar-Raudhoh Depok. Alhamdulillah, saya dipercaya oleh ustaz saya, Ust. Ahmad Misbahul Ula namanya. Beliau mengajak saya menjadi imam tarawih pada salah satu masjid di Cilodong, Depok. Seru, menantang, deg-degan abis! Betapa tidak, itu kali pertama saya menjadi imam bagi masyarakat yang saya tidak kenal sebelumnya. Terlebih, bacaan surat dalam tarawih ini next level  dibandingkan dengan Ramadan sebelumnya yang mana bacaannya boleh dikata default, yakni At-Takassur sampai An-Nas. Sementara Ramadan ini saya baca surat-surat yang lain, apakah itu Al-Mulk, Ad-Dukhan, serta surat-surat lain. Salah-salah baca ayat ya habis dibully saya! Syahdan, pada tanggal 27 April 2022 saya meluncur pulang ke Banjarnegara menggunakan moda transport...